RSS

Sang Pendidik

25 Agu

Pagi-pagi pukul 7.30, aku sudah bersaing dengan Pak satpam nongkrong di depan SMP 5 menanti kedatangan teman-temanku, kita sudah membuat janji bertemu di sana pukul 8. Karena terlalu bersemangat, hari itu aku datang 30 menit sebelum waktu yang disepakati. ya akhirnya aku hanya bisa merenungi nasib bersama Pak satpam, karena aku datang kepagian (hubungannya mana neh?!hehehe. ..)

Sambil menunggu karena kedatanganku yang kepagian itu, iseng-iseng aku melancarkan aksi foto-foto. Melihat sekitar sambil mencari-cari obyek yang menurutku menarik, langsung jepret. Niat mau belajar jadi fotografer professional, tapi apa mau dikata bakat masih belum sampai. Hasil foto masih belum jelas maksudnya apa ;p.

Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, Rere dan Rinda datang juga. Syukur deh biar aku gak terus-terusan jadi orang yang luntang luntung gak jelas. Rencana kita hari ini adalah mendatangi acara wisuda murid TK Quratul A’yun. Rere, sang calon Bu guru ditugaskan membuka stand pendaftaran SD Quratul A’yun sedangkan aku dan Rinda hanyalah dua orang penggembira yang suka membuat suasana jadi tambah norak hehehe…

Setelah ketemu, tiba-tiba muncul keinginan jitak si Rere karena ternyata dia bilang ”Aku gak tahu gedung tempat wisuda” haduh…capek deh. Dia hanya diberi ancer-ancer dan nama gedung lokasi wisuda, Sasana Asih YPAC oleh Pak Rahmat, Ketua Yayasan Quratul A’yun. Akhirnya kita menyusuri dan mengira-ngira arah jalan mana yang bisa kita ambil supaya sampai ke gedung dengan keadaan sehat wal’afiat (lho?!).

Alhamdulillah. ..setelah berkelana dan berjuang tanpa arah ;p akhirnya kita bertiga sampai di Gedung Sasana Asih. Terlihat di depan gedung sudah banyak anak-anak kecil dan para orang tua yang mengantarkan anaknya wisuda.

Begitu kita masuk, langsung disambut para penerima tamu (emang wajah kita kayak ibu-ibu ya?!) yang berbaju kebaya coklat. Dan ada beberapa yang berbaju biru -biru dan berjilbab putih.

”Re, kok beda-beda bajunya?”

”Yang pakai kebaya itu para wali murid, terus yang pakai baju putih biru itu guru-guru di TK ini” kata Rere. ”Wisuda ini melibatkan wali murid juga Sin, biar lebih terasa kekeluargaannya” kata Rere.

”Ooo…” jawabku sambil mengangguk-angguk.

Untung sebelum aku dan Rinda disuruh menunjukkan undangan dan anak kita (hehehe…) Rere menarik kita ke dalam, menuju meja yang akan digunakan untuk stand pendaftaran SD. Posisi meja stand berada di samping pintu masuk aula, membuat aku tertarik untuk berjalan menuju ke aula. Begitu masuk langsung terlihat aula besar yang ramai dengan teriakan anak-anak kecil dan suara musik. Ternyata acara sudah di mulai karena di panggung sudah nampak beberapa anak yang menari-nari dengan kostum berbagai profesi pekerjaan. Walaupun tak jelas gerakan apa yang ditarikan, semua itu tetap memancing tawa penonton yang melihat.

Tiba-tiba di depanku sudah muncul Mbak Is, yang tak lain tak bukan adalah kakaknya Rere.

“Sin, Rere mana?”

“Itu mbak” jawabku sambil menunjuk kepada Rere yang berada di luar aula sedang menyiapkan stand pendaftaran. Segera Mbak Is pergi menuju Rere, tapi tak lama kembali ke aku.

“Sin, nanti kalau Izul tampil tolong difotoin ya?” kata Mbak Is yang nunjuk Izul, nih anak sedang berlarian sambil memakai kostum tentara.

Seketika jiwa fotograferku yang gak jelas muncul. ”Oke deh Mbak” sambil menerima kamera dari Mbak Is, padahal saat itu aku juga sedang memegang kameraku sendiri.

Saat itu juga aku sudah melupakan tujuan utamaku untuk datang ke acara itu (menemani Rere menjaga stand) aku sudah terkesima melihat penampilan di panggung yang terus menerus memancing tawa si penonton.

Aku bergerak ke samping kanan depan supaya aku bisa leluasa memotret penampilan di panggung. Dari sudut itu aku menjadi lebih leluasa untuk melihat sekitar. Di bagian depan berjajar-jajar kursi kecil yang seharusnya diduduki para murid-murid TK, tapi karena keaktifan mereka membuat kursi sudah tak sejajar lagi dan banyak yang kosong karena mereka sudah berlarian kesana kemari.

Para guru dengan kesabarannya menata dan mengatur bocah-bocah cilik ini, supaya mereka tetap tenang dan tidak naik panggung saat teman-temannya tampil. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kesabaran dari para guru itu. Kesabaran menghadapi kelincahan para anak didik mereka.

Kebanyakan acara diisi dengan segala apresiasi dan kekreatifan bocah-bocah cilik ini. Mulai dari tari-tarian, tari daerah, tari modern yang penuh dengan keasalan, sampai tari gamboes pun ada. Ada juga pidato menggunakan bahasa inggris, wayang golek, pembacaan puisi, drama. Semua dilakukan oleh bocah-bocah dengan usaha maksimal, terlihat dengan gerakan tari-tarian mereka yang energic. Untung ada Bu guru yang stand by menata mereka di depan, karena rata-rata gerakan energic itu hampir membuat mereka saling bertabrakan. Kembali terlihat kesabaran Bu guru membimbing muridnya, tanpa berusaha menghalangi gerakan energic mereka.

Sampai juga pada penampilan si Izul, Mbak Is sudah menunjukkan aba-aba padaku untuk memotret. Padahal dari tadi kerjaku ya memotret penampilan-penampil an di panggung.

Begitu musik terdengar dan para tentara cilik gagah berani ini keluar, seketika terdengar jerit histeris dari bocah-bocah cewek, aku benar-benar terkejut mendengarnya.

”Yaelah…boyband kalah nih” batinku. Hampir semua yang ada di aula tertawa, melihat sambutan seperti itu. Haduh…nona- nona cilik ini…

Setelah selesai memotret para tentara cilik ini, khususnya si Izul. Aku kembali ke niat utamaku menemani Rere menjaga stand hehehe…telat dikit gak apa-apalah. Alhamdulillah, ternyata pendaftar untuk sekolah di SD-nya Rere lumayan banyak. Selain itu di meja pendaftar sudah bertaburan konsumsi untuk panitia, tambah bersemangat aku untuk menemani Rere dan Rinda di meja stand.

Sampai juga akhirnya pada acara puncak, semua wisudawan wisudawati imut dibariskan dengan penuh kesabaran di luar aula. Yaelah… susah banget anak-anak ini ditata, ada yang lari ke ibunya, ada yang rebutan topi, ada yang cuek gak merhatiin aba-aba gurunya fiyuuhhh… Pokoknya kesabaran benar-benar teruji di sana, itulah hebatnya para guru ini.

Setelah MC mempersilahkan para wisuda ini masuk ke dalam aula, berjalanlah mereka dengan berbaris menuju ke depan panggung dengan tetap didampingi. Sang MC memanggil satu-satu wisudawan wisudawati cilik untuk menerima ijazah TK.

Setelah semua sudah berada di panggung dan berjajar rapi, salah seorang bocah maju ke depan, yang ternyata bertugas menjadi dirijen. Suasana berubah menjadi sepi, tidak seperti sebelumnya, sekarang semua terdiam (walaupun masih ada suara-suara dari bocah-bocah cilik).

Dimulailah dengan hitungan dari sang dirijen. Satu…Dua.. .Tiga…
Terima Kasihku kuucapkan
Pada guruku yang tulus
Kan ku ingat selalu
Nasehat guruku
Terima kasihku ucapkan

Berkumandanglah lagu ”Terima kasih Guru” dengan diiringi musik. Lagunya benar-benar membuat suasana menjadi melankolis, tak terkecuali aku. Bayangan kesabaran para guru TK itu muncul lagi.

Saat paduan berakhir musik tidak berhenti, masih terus berkumandang dan terdengar salah seorang wisudawati membacakan puisi. Aku tidak hapal apa kata-kata dari puisi itu, tapi yang aku ingat adalah saat itu aku merinding mendengar bocah cilik ini membacakan puisi dengan suara tulusnya, mengucapkan terima kasih kepada pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan kesabarannya berjuang mendidik manusia-manusia cilik penerus bangsa.

*untuk Sang Pendidik…terima kasih untuk kesabaran dan perjuanganmu. ..
sinthionk@yahoo.com
24 Juni 2007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 25, 2008 in Cerita

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: