RSS

AYAH Ikut Campur ASI Pun Berlimpah

15 Sep

PROSES menyusui bukanlah monopoli ibu dan bayi, tetapi juga menjadi hak ayah untuk ikut campur.

Selama ini ayah merasa proses menyusui bukanlah urusannya sehingga sering kali tidak mendorong kesuksesan pemberian air susu ibu itu.

PROSES menyusui seharusnya menjadi hubungan segi tiga antara ibu, bayi, dan ayah. Keikutsertaan ayah dalam proses tersebut akan memberi motivasi ibu untuk menyusui. Jika ibu sudah memiliki motivasi dan optimistis bisa menyusui, air susu pun akan berhamburan,” demikian dikatakan dr Utami Roesli MD (Ped) MBA, Ketua Sentra Laktasi Indonesia di RSK Carolus, Jakarta.

Menurut Utami, banyaknya air susu ibu (ASI) yang diproduksi seorang ibu sangat tergantung pada kondisi emosi ibu. Di sinilah ayah memegang peranan sangat penting. Dengan memperlihatkan kasih sayang dan perhatian terhadap ibu dan bayi, ibu akan merasa tenang kemudian ASI pun akan keluar lancar dan berlimpah.

Selama ini, banyak ibu tidak menyusui bayinya karena merasa ASI-nya tidak cukup, encer, atau tidak keluar sama sekali. Padahal, menurut penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip Utami, hanya ada satu dari 1.000 orang ibu yang tidak bisa menyusui.

Macetnya proses pemberian ASI ini disebabkan beberapa hal. Misalnya, bayi yang tidak bisa mengisap, posisi menyusui yang salah, ibu merasa tidak nyaman, atau suami dan lingkungan tidak mendukung.

“Tidak ada cerita seorang ibu tidak bisa menyusui atau ASI yang tidak cukup. Perhatikan saja seekor marmut yang kecil bisa menyusui 12 ekor anaknya. Bayi gajah yang besar juga bisa disusui dengan cukup oleh induknya. Mereka tidak memerlukan susu hewan lain untuk memenuhi kebutuhan susu. ASI diproduksi berdasarkan jumlah yang dikeluarkan,” ungkap Utami.

Semua masalah yang bisa menghalangi proses pemberian ASI, menurut Utami, bisa diatasi asalkan proses ini tidak diganggu sejak awal. Banyak rumah sakit dan tenaga medis secara sengaja mengenalkan susu formula kepada bayi yang baru lahir di rumah sakit tersebut sehingga bayi tidak mau belajar mengisap puting susu ibu. Alasan yang dipakai, ibu masih lemah atau air susu belum keluar. Bila keadaan memaksa di mana keadaan ibu benar-benar tidak bisa menyusui, usahakan mendapatkan sumbangan ASI dan pemberiannya dilakukan dengan sendok, bukan memakai botol atau dot.

“Di Swedia sudah ada penelitian. Setelah seorang bayi dilahirkan dan dipotong tali pusatnya, bayi itu diletakkan di atas perut ibunya tanpa dimandikan. Ternyata, bayi itu akan merangkak menuju dada ibu, dan dalam 20 menit bayi sudah mencapai payudara ibu. Kemudian, dalam waktu 50 menit, bayi sudah menyusu ASI dengan baik. Tetapi, jika begitu lahir bayi langsung dimandikan, refleks menyusu ini langsung hilang 50 persen. Jika bayi lahir dengan operasi Caesar dan langsung dimandikan, refleks itu 100 persen hilang,” papar Utami.

SEJAK lahir, seorang bayi harus diajari menyusu dengan cara memasukkan seluruh areola payudara (daerah berwarna cokelat di payudara ibu) ke dalam mulut bayi. Jika bayi hanya mengisap puting susu saja, ASI yang keluar hanya sedikit. “Gudang ASI terletak di bawah daerah cokelat itu. Jika yang diisap hanya putingnya saja, ASI yang keluar hanya sedikit. Sedangkan, kalau dari daerah cokelat itu, ASI yang keluar akan banyak sekali,” jelas Utami.

Jika ASI di gudang itu habis, pabrik ASI (alveoli) akan segera memproduksi lagi. Alveoli berbentuk bulat dan bergerombol seperti buah anggur. Alveoli dikelilingi otot yang disebut myoepithel. Otot inilah yang memompa ASI keluar dari alveoli menuju gudang ASI.

Namun, kinerja myoepithel sangat tergantung pada hormon oksitosin yang dikirim otak. Jika oksitosin keluar, otot pun bekerja. Sedangkan, oksitosin bisa keluar jika ibu merasa tenang dan disayang oleh suami serta mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. “Makanya hormon ini disebut hormon kasih sayang. Dan di sinilah ayah memegang peranan penting,” tegas Utami.

Peran yang bisa dilakukan ayah, misalnya, jika bayi ingin menyusu, ayah yang menggendong untuk diserahkan kepada ibu. Dengan begitu terjadi sebuah ritual kecil yang melibatkan ketiganya. Ayah juga bisa menggantikan popok, menyendawakan, memandikan, mendendangkan, memijat bayi, dan membantu pekerjaan rumah tangga. Dengan melakukan hal-hal ini, seorang ibu akan merasa tenang dan mendapat dukungan dari suami. Akibatnya, ASI pun berlimpah.

SEORANG ibu yang merasa tenang dapat mengeluarkan ASI dalam jumlah banyak. Jika ASI sering dipompa, pabrik akan terus memproduksi. Seorang ibu bisa mengeluarkan satu ember ASI dalam sehari karena ASI itu terus-menerus dikeluarkan.

ASI yang dikeluarkan bisa bertahan cukup lama. Jika dia dibiarkan di suhu ruang, ASI akan bertahan selama enam sampai delapan jam. Jika ASI dimasukkan ke dalam termos dan di sekelilingnya diberi es batu, ASI bisa bertahan sampai 24 jam. Jika dimasukkan ke dalam lemari es, ASI bisa tahan hingga 48 jam. Jika diletakkan di bagian pembeku dalam lemari es, ASI bisa tahan sampai dua minggu dan jika di lemari es khusus pembeku bisa tahan sampai tiga bulan.

Sebaiknya ASI disimpan dalam wadah kecil dari besi nirkarat (stainless steel). Tetapi, jika tidak ada, bisa memakai botol plastik atau kantong plastik. Botol harus diberi tanggal dan jam agar ASI yang pertama kali disimpan bisa dipakai lebih dulu. Jika akan dipakai, ASI dihangatkan dulu dengan merendamnya dalam air panas. Jangan direbus karena akan ada antibodi dalam ASI yang rusak.

“ASI yang tersisa setelah diberikan kepada bayi sebaiknya dibuang. Makanya disimpan dalam wadah kecil supaya bisa diberikan sedikit-sedikit sesuai kebutuhan bayi biar tidak ada yang terbuang. Jika bayi masih ingin minum, bisa tambah lagi. Dan ingat, pemberian ASI tersebut jangan menggunakan botol susu, tetapi gunakan sendok,” tandas Utami. (ARN)

Jakarta, Kompas 2004/03/01

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 15, 2008 in Ibu & Anak

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: