RSS

Dimensi Lain Dalam Materi

15 Sep

Peringatan Tulisan berikut — yang mulai dimuat hari ini — mengungkap rahasia paling tersembunyi dari kehidupan Anda. Anda harus membacanya dengan penuh perhatian karena tulisan ini membahas masalah yang dapat mengubah cara pandang anda terhadap dunia materi.

Manusia dibiasakan sejak awal kehidupannya untuk memandang dunia tempat ia hidup memiliki wujud materi yang absolut. Sehingga ia tumbuh dewasa di bawah pengaruh pengkondisian ini dan menjalani seluruh hidupnya dengan cara pandang ini. Namun penemuan ilmu pengetahuan modern memperlihatkan kenyataan penting yang sama sekali berbeda dengan anggapan umum.

Semua informasi yang kita punyai tentang dunia luar, sampai kepada kita melalui panca indera kita. Dunia yang kita pahami terdiri atas apa dilihat mata, didengar telinga, dicium hidung, dirasakan lidah dan disentuh oleh tangan kita.

Manusia bergantung hanya pada kelima indera tersebut sejak lahir. Itulah mengapa ia mengetahui ‘dunia luar’ hanya sebatas apa yang diberikan melalui indera ini.

Penelitian ilmiah tentang indera kita telah mengungkapkan kenyataan yang sangat berbeda tentang apa yang kita sebut dengan ‘dunia luar’. Dan kenyataan ini telah membongkar rahasia sangat penting tentang hakikat materi, yang menyusun dunia luar tersebut.

Pemikir abad ini Frederick Vester menjelaskan pencapaian ilmu pengetahuan pada bidang ini:

Pernyataan sejumlah ilmuwan bahwa ‘manusia adalah gambar, segala yang dirasakan bersifat sementara dan tipuan, dan alam semesta hanyalah sebuah bayangan’, tampak dibuktikan oleh ilmu pengetahuan di zaman kita (Frederick Vester, Denken, Lernen, Vergessen, vga, 1978, p. 6)

Agar lebih memahami rahasia di balik materi ini, marilah kita pahami kembali indera penglihatan yang memberikan kita informasi paling banyak tentang dunia luar.

Bagaimana Kita Dapat Melihat? Proses melihat terjadi secara bertahap. Pada saat melihat, kumpulan cahaya yang disebut foton bergerak dari benda menuju mata dan menembus lensa mata dimana foton ini dibelokkan dan difokuskan ke retina, di belakang mata. Di sini, cahaya diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan kemudian diteruskan oleh sel-sel syaraf ke pusat penglihatan di bagian belakang otak. Proses melihat sesungguhnya terjadi di pusat tersebut yang berada di otak.

Semua pemandangan yang kita saksikan dalam kehidupan dan semua peristiwa yang kita alami, sebenarnya kita rasakan di tempat yang kecil dan gelap ini. Tulisan yang kini sedang Anda baca dan pemandangan luas tanpa batas yang anda lihat di ufuk, keduanya masuk ke dalam tempat kecil berukuran beberapa sentimeter kubik ini.

Sekarang, marilah kita cermati kembali informasi ini dengan lebih seksama. Ketika kita berkata, ‘kita melihat’, kita sesungguhnya melihat ‘efek’ yang ditimbulkan pada otak kita oleh cahaya yang sampai pada mata dengan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Ketika kita berkata, ‘kita melihat’, kita sebenarnya menyaksikan sinyal-sinyal listrik pada otak kita.

Di samping itu, ada hal lain yang perlu diingat: otak tertutup rapat dari masuknya cahaya dan bagian dalamnya gelap gulita. Oleh karenanya, ia tak mungkin akan pernah berhubungan dengan cahaya.

Kita dapat menjelaskan hal ini dengan sebuah contoh: di hadapan kita ada sebuah lilin menyala dan kita melihat cahaya lilin ini. Selama kita melihat cahaya lilin, bagian dalam tengkorak dan otak kita sama sekali gelap, lilin tidak pernah menerangi otak maupun pusat penglihatan kita. Namun kita melihat dunia berwarna-warni dan terang-benderang dalam otak kita yang gelap.

Hal yang sama terjadi pula pada semua indera kita yang lain. Suara, sentuhan, rasa dan bau, semuanya dirasakan di dalam otak sebagai sinyal-sinyal listrik.

Jadi, otak kita sepanjang hidup tidak berhubungan langsung dengan materi ‘sesungguhnya’ yang ada di luar kita, melainkan sekedar tiruan berupa sinyal listrik dari materi tersebut yang terbentuk di dalam otak kita. Di sinilah kita tertipu ketika menganggap tiruan ini sebagai materi sesungguhnya di luar kita.

Kenyataan ini menghantarkan kita pada kesimpulan yang tak perlu diperdebatkan lagi. Semua yang kita lihat, sentuh, dengar dan rasakan sebagai materi, dunia atau alam semesta hanyalah sinyal-sinyal listrik dalam otak kita.

Sebagai contoh, kita melihat seekor burung di dunia luar. Nyatanya, burung ini bukanlah di dunia luar, tapi dalam otak kita. Partikel-partikel cahaya yang dipantulkan burung mengenai mata kita dan kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Sinyal-sinyal ini diteruskan oleh sel-sel neuron ke pusat penglihatan di otak. Burung yang kita lihat, sesungguhnya adalah sinyal-sinyal listrik dalam otak kita. Jika syaraf-syaraf penglihatan yang menghubungkan ke otak diputus, penampakan burung tersebut akan segera lenyap.

Dengan cara yang sama, suara burung yang kita dengar juga ada dalam otak kita. Jika syaraf yang menghubungkan telinga ke otak diputus, maka tidak akan ada suara yang terdengar. Singkatnya, burung yang kita lihat dan suaranya yang kita dengarkan tidaklah lebih dari penafsiran sinyal-sinyal listrik oleh otak.

Hal lain yang perlu dicermati ialah perasaan tentang jarak. Misalnya, jarak antara Anda dan tulisan ini, tidak lebih dari perasaan tentang ukuran ruang yang terbentuk dalam otak anda. Juga, benda-benda yang terlihat sangat jauh dalam pandangan seseorang ternyata adalah sejumlah bayangan yang terkumpul pada satu titik dalam otak.

Ketika sedang menonton film, Anda sebenarnya tidak berada di dalam ruangan sebagaimana yang anda yakini. Sebaliknya, ruangan tersebut berada dalam diri anda. Penglihatan anda terhadap tubuh anda membuat anda berpikir bahwa anda berada di dalamnya. Namun anda harus ingat bahwa tubuh anda pun adalah gambar yang terbentuk dalam otak anda.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 15, 2008 in Harun Yahya

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: