RSS

Shaum/Puasa dalam Perjalanan

15 Sep

1. Safar (bepergian) termasuk kondisi yang membolehkan ifthor atau berbuka, artinya boleh tidak menunaikan shaum meski hukumnya wajib, seperti shaum Ramadhan, shaum nadzar, dan kafarot. Sekalipun tetap ada ketentuan untuk mengganti (mengqodho’) di waktu lain.
Dalil syar’i yang mengaturnya; Al-Qur’an suarat Allah SWT Baqoroh : 185: “… Maka barangsiapa yang sakit atau dalam safar, (jika berbuka) maka hendaklah menggantinya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki emudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan… “.


2.  Ukuran safar yang populer dikalangan ulama’ adalah pada jarak perjalanan yang boleh mengqoshor shalat. Dan jika memperhatikan isyarat ayat, bahwa ” Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan”, dapat difahami bahwa keringan (rukhshoh) dibolehkannya berbuka saat safar agar tidak terjadi kondisi yang menyulitkan ( al usr) atau memberatkan (al masyaqqoh). Sebagaimana yang difahami oleh ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah.

 

3. Dengan mempertimbangkan (mura’at) terjadi tidaknya masyaqqoh, maka shaum dalam safar dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Shaum lebih utama (afdhol) dari pada berbuka:

Ø      Bagi orang yang kuat menjalaninya tanpa suatu masyaqqoh. Demikian pendapat jumhurul ulama’ sesuai dengan taujih ayat : ” …. Dan bahwa kamu sekalian melaksanakan shaum adalah lebih baik jika kamu sekalian mengetahui nilai keutamaannya” ( QS:2:184)

Ø      Shaum lebih baik walaupun terasa sedikit berat, jika untuk mengqodho’nya akan terasa berat. Demikian difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz.

Ø      Shaum lebih utama bagi yang sudah biasa dan rutin bepergian relatif jauh tanpa merasakan adanya rasa berat (masyaqqoh). Dalam soal masyaqqoh, kecuali fisik yang harus dipertimbangkan, tapi kondisi ruhiyah atau kejiwaan lebih menentukan. Adalah para shahabat Rasulullah SAW biasa tetap menjalani shaum walaupun dalam keadaan perang, tanpa merasakan adanya masyaqqoh yang berarti.

b. Berbuka lebih baik:

Ø      Bagi orang yang kuat shaum tapi dikhawatirkan terganggu dengan rasa ujub (bangga) atau riya’.Sebagaimana difatwakan oleh Ibnu Umar RA. Imam Bukhori meriwayatkan hadits dari shahabat Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada mereka yang berbuka ketika melayani mereka yang shaum: ” Orang-orang yang berbuka hari ini meraih pahala”.

Ø      Demikian pula berbuka lebih baik bagi orang  yang belum pernah mengambil rukhshoh (keringanan ini). Sebagaimana kesimpulan Asy Syaukani tentang hadits riwayat Muslim dan an Nasa’i bahwa shahabat Hamzah bin Amr as Aslami berkata kepada Rasulullah SAW : ya Rasulullah saya kuat menjalankan shaum dalam safar bolehkah saya lakukan ? jawab beliau : ” Ini merupakan rukhshoh dari Allah ta’ala, siapa yang mengambilnya adalah baik dan siapa yang ingin shaum tidak apa-apa”.

Ø      Berbuka adalah afdhol bahkan shaum menjadi makruh, bagi yang memaksakan shaum diperjalanan yang terdapat  masyaqqoh. Dalam kontek ini Rasulullah SAW bersabda tentang musafir yang tetap shaum dalam kepayahan sehingga dikerumuni dan diteduhi orang banyak: ” Tidak merupakan kebaikan (al birr) as shaum dalam safar “. Demikian Imam Bukhori menyimpulkan.

Ø      Berbuka dalam safar lebih baik jika akan lebih kuat untuk mengadapi musuh dalam jihad.

Ø      Bahkan berbuka menjadi wajib hukumnya apabila panglima jihad memerintahkan untuk berbuka demi kepentingan jihad

4. Dalam kajian fiqhiyah, ulama’   menyim-pulkan sejumlah persyaratan untuk mengambil rukhshoh ifthor (berbuka) dalam safar. Yaitu :

a.      Merupakan perjalanan yang halal atau mubah, bukan safar untuk tujuan maksiat

b.      Perjalanan relatif jauh menurut ukuran zamannya

c.       Tidak memulai perjalanan dalam keadaan shaum agar tidak sampai membatalkan amal ibadah yang sudah dimulai.

d.      Bukan merupakan perjalanan yang biasa dan rutin (seperti perjalanan supir) kecuali jika terjadi masyaqqoh.


Para ulama’ cenderung bahwa untuk pengamalan sendiri memilih yang afdhol dan yang ahwath (lebih berhati-hati) dari pilihan yang ada.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 15, 2008 in Rohani

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: